Skip to Content

Analisis Teknis: Mengapa Transisi ke Refrigeran Alami adalah Keputusan Bisnis Paling Logis untuk Industri Pendingin

February 22, 2026 by
Rachman Shaufun

Pendahuluan: Kepatuhan Regulasi

Dalam lanskap industri pendingin modern, diskusi mengenai refrigeran sering kali berhenti pada kepatuhan terhadap Protokol Montreal dan penghapusan CFC/HCFC. Namun, bagi pelaku industri yang berorientasi pada profitabilitas jangka panjang, fokus utama seharusnya bukan hanya pada "apa yang diperbolehkan", melainkan "apa yang paling efisien".

Data teknis menunjukkan bahwa HFC (seperti R404A atau R507), meskipun populer sebagai pengganti sementara, memiliki Global Warming Potential (GWP) yang sangat tinggi. Lebih penting lagi, karakteristik termodinamika mereka sering kali kalah dibandingkan solusi alami yang telah teruji waktu: Amonia (NH3).

Metrik Kunci: TEWI dan Efisiensi Energi

Untuk mengevaluasi kinerja sistem pendingin secara holistik, Mayekawa menyarankan penggunaan parameter Total Equivalent Warming Impact (TEWI). TEWI menggabungkan dua variabel kritis:

  1. Emisi Langsung: Kebocoran refrigeran dikalikan nilai GWP-nya.
  2. Emisi Tidak Langsung: CO2 yang dihasilkan dari konsumsi listrik kompresor selama masa pakainya.

Studi menunjukkan bahwa emisi langsung (kebocoran) sering kali hanya berkontribusi kecil (sekitar 1.4%) dibandingkan emisi tidak langsung dari penggunaan energi. Artinya, efisiensi energi (COP) adalah faktor penentu utama dalam mengurangi dampak lingkungan sekaligus biaya operasional.

Komparasi Teknis: Amonia vs. HFC (R404A & R507)

Berdasarkan data termodinamika, Amonia (NH3/R717) menunjukkan keunggulan absolut dibandingkan refrigeran sintetis dalam aplikasi industri.

Berikut adalah perbandingan kinerja pada kondisi evaporasi -10deg.C dan kondensasi 35deg.C (Kompresor Reciprocating):

ParameterAmonia (R717)R404A (HFC)R507 (HFC)
Kapasitas Pendinginan425.8 kW352.4 kW356.7 kW
Shaft Power112.9 kW132.6 kW136.0 kW
COP (Coefficient of Performance)3.7712.6582.623


Analisis:

  • Amonia memberikan kapasitas pendinginan yang lebih besar dengan konsumsi daya (shaft power) yang jauh lebih rendah.
  • Nilai COP Amonia (3.771) jauh melampaui R404A (2.658). Ini berarti untuk setiap kW listrik yang Anda bayar, Amonia memberikan output pendinginan yang jauh lebih besar.
  • Keunggulan ini juga terlihat pada aplikasi suhu rendah (-30deg.C) menggunakan screw compressor, di mana Amonia tetap memimpin efisiensi.

Mitigasi Risiko dan Keamanan

Kami memahami kekhawatiran mengenai toksisitas dan flammability Amonia. Namun, dalam aplikasi industri modern, karakteristik ini justru dikelola sebagai fitur keamanan:

  • Deteksi Dini: Bau tajam Amonia memungkinkan kebocoran terdeteksi pada konsentrasi sangat rendah (5 ppm), jauh di bawah tingkat berbahaya.
  • Manajemen Sistem: Dengan pemeliharaan terjadwal, penggunaan sistem tidak langsung (secondary refrigerant), dan pengurangan muatan refrigeran, risiko dapat diminimalisir secara signifikan.

Kesimpulan: Investasi pada Masa Depan

HFC bukanlah solusi jangka panjang karena GWP-nya yang tinggi. Masa depan pendingin industri kembali pada refrigeran alami: Ammonia untuk efisiensi tinggi, Hidrokarbon untuk penghematan energi, dan CO2 untuk aplikasi spesifik.

Bagi industri perikanan dan pemrosesan makanan, memilih sistem berbasis Ammonia bukan sekadar keputusan "go green". 
Ini adalah strategi untuk mengamankan biaya operasional terendah dan kepatuhan regulasi untuk puluhan tahun ke depan.